6 Akad Yang Perlu Diketahui Saat Investasi Syariah

Entrepreneur.awasmedia.com 6 Akad Yang Perlu Diketahui Saat Investasi Syariah – Ada pernyataan menarik dari para ahli keuangan Islam yang mengungkapkan bahwa ” Syariah hanya melakukan hal yang sama dengan bentuk yang berbeda.”

Ini berarti bahwa transaksi Syariah melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Salah satu perbedaan antara transaksi syariah dan konvensional adalah kontrak.

Dalam transaksi muamalah (hubungan manusia dengan orang lain), kontrak adalah untuk menentukan transaksi halal atau haram dalam konteks Syariah. Kontrak yang berbeda akan memiliki konsekuensi hukum yang berbeda, dalam ruang-ruang Ilmu Syariah.

Tidak terkecuali ketika melakukan investasi di Syariah. Calon investor harus memahami kontrak mana yang akan digunakan dalam investasi, sehingga sisi Syariah bisa, laba atas investasi juga bisa.

Untuk mempermudah membayangkan kontrak yang digunakan, Ambil saja contoh investasi berupa pinjaman P2P Syariah. Peer-to-peer (P2P) lending adalah pinjaman online atau pinjaman kepada individu / bisnis.

Dapat dikatakan bahwa peer-to-peer lending adalah sarana untuk menyatukan mereka yang membutuhkan dana dengan mereka yang memiliki kelebihan dana. Untuk setuju dengan Syariah, pahami

6 kontrak berikut yang harus Anda ketahui saat berinvestasi di Syariah

Akad Al Qardh

Akad Al Qardh banyak digunakan dalam kasus pinjaman dan pinjaman, paling tidak dalam skema investasi Islam. Dalam kontrak ini, beberapa hal harus dipertimbangkan:

  • Orang yang menerima dana harus mengembalikannya pada waktu tertentu sesuai dengan perjanjian .
  • Pengembalian uang (transaksi) dapat diberikan kepada Lembaga Keuangan Syariah (LKS) atau investor / pemberi pinjaman lainnya
  • Kontrak ini memungkinkan transaksi utang/pinjaman dilakukan sesuai dengan Perjanjian, baik nominal maupun imbal hasil.

Akad Wakalah Bil Ujrah

Karena kondisi jarak, waktu, dll., Syariah memberikan solusi atas masalah transaksi ini dalam bentuk kontrak Wakalah bil ujrah. Perjanjian ini memungkinkan seseorang untuk memberikan kuasa kepada pihak lain untuk melakukan tindakan atas nama pemberi kuasa atau wakalah dimana pemberi kuasa mendapat imbalan atau dikenal dengan ujrah.

Akad Mudharabah Muqayyadah

Dalam konteks investasi, ada pemilik modal, dan ada juga manajer. Kedua pihak ini dapat melakukan kerjasama investasi dengan menggunakan kontrak mudharabah muqayyah. Ketentuan dalam perjanjian ini adalah:

  • Ada kesepakatan awal tentang persentase bagi hasil yang akan diperoleh dari bisnis antara pemilik dan manajer.
  • Kerugian Adalah tanggung jawab deposan modal, kecuali ada manajemen yang disengaja yang melanggar perjanjian investasi awal.

Akad Musyarakah

Kontrak musyarakah dapat menjadi alternatif lain untuk melakukan Kerjasama Investasi Syariah antara pemilik dan pengelola modal. Ini adalah istilah:

  • Masing-masing pihak yang bekerja sama akan menyumbangkan modal untuk melakukan kegiatan ekonomi bersama.
  • Keuntungan dan Kerugian dari kerja sama ini akan diasumsikan bersama sesuai dengan perjanjian .
  • Manajer dapat menjadi pemilik modal atau menunjuk orang/pihak lain sesuai dengan perjanjian.

Akad Ijarah

Kontrak Ijarah biasa terjadi dalam transaksi bisnis untuk penjualan dan pembelian keuntungan. Manfaat di sini bisa dalam bentuk paket layanan, misalnya, paket umrah. Pada prinsipnya dalam kontrak ijarah ini:

  • Ada pengalihan hak untuk menggunakan barang tertentu untuk waktu yang ditentukan.
  • Tidak ada perubahan kepemilikan barang.
  • Penyewa atau pengguna layanan akan membayar sewa terhadap penggunaan apa yang ada dalam Perjanjian .

Istishna Bil Wakalah

Kontrak ini digunakan untuk memesan produk yang akan digunakan sebagai investasi syariah, tetapi pemilik modal menggunakan pihak lain sebagai perwakilan/perantara. Akibatnya, pihak yang ditunjuk sebagai wakil oleh pemilik modal akan mendapatkan pembagian keuntungan sesuai dengan kesepakatan awal.